> Sosok Inspiratif

 

3 Ilmuwan Jepang Ini Menang Nobel Fisika 2014 karena Temukan LED Biru

3 Ilmuwan kelahiran Jepang memenangkan Nobel bidang Fisika. Mereka adalah Isamu Akasaki, Hiroshi Amano dan Shuji Nakamura yang menemukan Light-Emitting Diode (LED) warna biru.

Isamu yang lahir di Chiran, Jepang, tahun 1929 adalah peneliti dan guru besar di Universitas Nagoya dan Universitas Meijo; Hiroshi yang lahir di Hamamatsu, Jepang tahun 1960 juga guru besar Universitas Nagoya. Sedangkan Shuji yang lahir di Ikata tahun 1954, kini menjadi peneliti di Universitas California, Santa Barbara, AS.

Penelitian mereka untuk menemukan LED warna biru sudah dimulai sejak belasan hingga puluhan tahun lalu. Tahun 1986, Isamu dan Hiroshi untuk pertama kalinya sukses membuat kristal gallium nitride berkualitas tinggi, bahan dasar yang dibutuhkan untuk membuat cahaya biru. Hanya sedikit sekali ilmuwan dan insinyur yang tertarik pada material kristal.

Sedangkan Shuji, pada 1993, mengejutkan dunia kala dia mengembangkan LED yang bisa mengeluarkan pancaran cahaya terang memakai peralatan yang didesainnya sendiri.

Apa respons mereka saat diberitahu bahwa penemuannya menang Nobel? Isamu Akasaki, guru besar di Universitas Meijo mengatakan dia agak terkejut, namun tak pernah merasakan seterhormat ini menerima penghargaan.

"Banyak peneliti berpikir bahwa tidak mungkin menghasilkan (LED cahaya biru) pada akhir abad ke-20 dan meninggalkan laboratorium. Namun saya tak pernah terpikir untuk berhenti," kata Isamu di Nagoya pada Selasa (7/9/2014) kemarin seperti dilansir NHK.

Dia juga berterima kasih pada koleganya yang bersedia bergabung dalam penelitian ini. Penemuan ini tidak mungkin dihasilkan bila dirinya bekerja sendiri.

Hiroshi Amano yang guru besar di Universitas Nagoya mengetahui bahwa dia memenangkan Nobel saat dia mengecek emailnya kala transit di Jerman. Kala itu Hiroshi membaca banyak email yang ditujukan kepadanya yang isinya mengucapkan selamat.

Hiroshi dicegat wartawan di Bandara Lyon, Prancis, kala kunjungan bisnis pada Selasa kemarin. Hiroshi senang mendapatkan hadiah Nobel dan membaginya pada 2 koleganya, Isamu Akasaki dan Shuji Nakamura.

"Mereka itu pelopor yang hebat dan saya masih tertinggal di belakang mereka," kata Hiroshi merendah.

Ketika ditanya mengapa dirinya bisa meneliti yang membawanya meraih hadiah Nobel, Hiroshi lagi-lagi merendah bahwa dirinya beruntung menemukan LED biru sebagai obyek penelitian dan tetap fokus setelah beberapa lama.

Sedangkan Shuji Nakamura malah mengatakan dirinya sedang tidur saat Royal Swedish Academy meneleponnya sekitar pukul 02.00 dini hari bahwa dia memenangkan hadiah Nobel Fisika.

Shuji menambahkan banyak peneliti meneliti teori dasar tentang LED, dirinya hanya mengembangkan LED biru sehingga dirinya ragu disebut menerima hadiah Nobel bidang Fisika.

"Saya senang membagi hadiah ini dengan 2 ilmuwan Jepang lain karena mereka telah membentuk persaingan yang ramah," tutur Shuji yang sedang berada di California AS ini.

Dia lantas berpesan adalah sangat penting bagi orang untuk menemukan apa yang mereka inginkan untuk dikejar dalam karier.

Sedangkan juri Nobel mengatakan penemuan mereka sangat revolusioner. Bila abad 20 ditandai dengan bola lampu dan abad 21 akan ditandai dengan lampu LED. Ketiga ilmuwan dari Jepang itu, menemukan LED yang bisa memancarkan cahaya biru terang dari semi konduktor awal 1990-an. Penemuan ini memicu perubahan pada teknologi pencahayaan.

LED berwarna merah dan hijau sudah ada sejak lama, namun tanpa cahaya biru, lampu bercahaya putih tidak akan bisa dihasilkan. Memproduksi cahaya biru menjadi tantangan peneliti selama 30 tahun.

"Mereka berhasil di mana orang lain telah gagal. Dengan munculnya lampu LED ini, kami sekarang memiliki alternatif yang lebih tahan lama dan lebih efisien dibanding sumber cahaya yang lebih dulu," jelas juri Nobel seperti dilansir dari AFP dan Reuters, yang ditulis Rabu (8/10/2014).

Lampu LED memancarkan cahaya putih terang yang tahan lama dan menggunakan energi jauh lebih sedikit dibandingkan dengan bola lampu pijar yang ditemukan Thomas Alva Edison di abad ke-19.

Sementara Frances Saunders, Presiden Institut Fisika Inggris, mengatakan penemuan LED biru ini menawarkan potensi penghematan energi yang besar.

"20 Persen dari listrik dunia digunakan untuk penerangan. Dengan adanya LED ini, saya sudah menghitung bahwa penggunaan optimal pencahayaan LED dapat mengurangi penggunaan listrik menjadi 4 persen," jelas Saunders.

Karena LED membutuhkan listrik yang sangat rendah, bahkan bisa dihubungkan dengan penggunaan tenaga surya lokal yang murah dan mudah, maka manfaatnya akan bisa dirasakan bagi 1,5 miliar orang di seluruh dunia yang tidak memiliki akses ke jaringan listrik.

Ketiga ilmuwan itu akan berbagi jumlah hadiah total sebesar 8 juta Kronor Swedia atau US$ 1,1 juta atau Rp 12 miliar.

Tahun lalu penghargaan Nobel bidang Fisika diraih Peter Higgs dari Inggris dan Francois Englert dari Belgia untuk penemuan 'god particle' atau 'partikel tuhan', sub atom Higgs boson yang memberikan massa ke partikel dasar lainnya.

Sejalan dengan tradisi, pemenang akan menerima hadiah mereka pada upacara resmi di Stockholm pada tanggal 10 Desember, hari ulang tahun kematian pendiri hadiah Nobel, Alfred Nobel, pada tahun 1896.

[sumber]

Leave a comment